Sabtu, 26 November 2011

SENTRA KONFEKSI CELANA JINS CIKIJING, MAJALENGKA


Peluang Usaha


SENTRA USAHA 
Jumat, 25 November 2011 | 16:01  oleh Hafid Fuad
SENTRA KONFEKSI CELANA JINS CIKIJING, MAJALENGKA
Sentra konfeksi jins Cikijing: Beragam model jins tersedia di sini (1)
Jika Anda suka memakai celana jins, tak ada salahnya mampir ke Kecamatan Cikijing, Majalengka. Di sana ada 60-an konfeksi celana jins yang membuat beragam model celana jins. Selain melayani pasar di Jawa, mereka juga menjual celana hingga ke Kalimantan dan Sumatra.

Selain terdapat pusat kerajinan tangan, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, juga memiliki pusat industri kecil yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Salah satunya adalah pusat industri celana jins yang berada di Kecamatan Cikijing.

Di kecamatan yang berada di perbatasan Kabupaten Kuningan itu terdapat 60 konfeksi celana jins yang mempekerjakan ratusan penjahit dari warga setempat. Selain melayani pasar celana jins untuk Majalengka, mereka juga melayani permintaan dari kota lain di Jawa Barat, Jawa Tengah hingga Kalimantan dan Sumatra.

Untuk mencapai lokasi, setidaknya butuh waktu 1,5 jam dari pusat kota Majalengka. Jika Anda dari kota Bandung, butuh waktu empat jam untuk sampai di Kecamatan Cikijing.

Pengusaha konfeksi celana jins di Cikijing tidaklah bermukim pada satu desa. Mereka menyebar di lima desa, yakni di Desa Cikijing, Desa Kasturi, Desa Cidulang, Desa Sindangpanji, dan Desa Sukamukti.

Menurut warga, usaha pembuatan celana jins di Kecamatan Cikijing sudah ada sejak 1982 lalu. Adalah Nana Sudiana yang merintis usaha konfeksi celana jin. Usaha konfeksi Nana itu bernama Istana Jeans.

Menurut Fajrheena anak Nana, ayahnya mendirikan konfeksi celana terinspirasi dari usaha konfeksi serupa di Bandung. "Ayah ikutan buka konfeksi, apalagi Ibu saya memang pintar menjahit," terang perempuan yang akrab disapa Debi itu.

Pertama kali produksi, Istana Jeans menjual celana jins itu ke kota Yogyakarta. Waktu itu, ayah Debi berprofesi sebagai sopir yang rutin melakukan perjalanan ke Yogyakarta.

Setelah beberapa tahun, jumlah penjahit di Istana Jeans bertambah banyak. Namun memasuki tahun 1990-an, banyak penjahit di Istana Jeans mulai memisahkan diri dan mereka membuka konfeksi sendiri. "Sejak 1990-an itu jumlah konfeksi kian banyak," terang Debi.

Karena jumlah konfeksi bertambah banyak, pemilik konfeksi pun sepakat mengatur strategi supaya mendapat pembeli. Salah satu caranya adalah mencari pelanggan di Jawa Barat, Jawa Tengah dan luar Jawa.

Konfeksi Aritona Jeans, misalnya. Usaha pembuatan celana berbahan denim itu berhasil mendapatkan pelanggan di Kalimantan. "Pemasaran kami sampai Banjarmasin," kata Yoyoh, karyawan di Aritona Jeans.

Menurut Yoyoh, untuk mendapat pelanggan celana jins di daerah itu tidak mudah. Ia harus pintar menyesuaikan selera pasar. Caranya dengan memperbanyak pilihan dan ragam model celana.

Saat ini, Aritona Jeans memiliki model celana jins standar, model kargo serta model celana pensil, atau celana yang memiliki ukuran sempit di bagian pergelangan kakinya.

Soal harga jual, pemilik konfeksi celana jins di Cikijing menjual harga rata-rata antara Rp 60.000 sampai Rp 90.000 per potong. "Pasar kami kebanyakan kalangan menengah ke bawah," terang Yoyoh.

Saban bulan Yoyoh mampu menjual 10.000 potong celana jins dengan beragam model. Dari penjualan itu, perusahaannya mampu mengantongi omzet minimal Rp 600 juta per bulan.

Sementara itu, Istana Jeans mampu menjual 5.000 sampai 8.000 potong celana jins per bulan dengan omzet Rp 300 juta per bulan. "Kenaikan drastis penjualan terjadi mendekati Lebaran," kata Debi.

Guna memenuhi pasar celana jins itu, Yoyoh atau Debi menerapkan strategi pesanan borongan kepada penjahit. Mereka meminta penjahit membuat celana jins dalam jumlah banyak. "Cara borongan ini lebih cepat dan lebih efisien," kata Debi.

Selain pengusaha konfeksi, di Kecamatan Cikijing juga terdapat pengusaha aksesori celana. Salah satunya adalah Mamad Muhammad. Dia sukses menjual dua ton ritsleting celana jins per bulan. "Omzet saya bisa mencapai Rp 36 juta per bulan," kata Mamad. 
Senin, 28 November 2011 | 13:49  oleh Hafid Fuad
SENTRA KONFEKSI CELANA JINS CIKIJING, MAJALENGKA
Sentra konveksi jins Cikijing: Sulit cari penjahit saat order melimpah (2)
Celana jins tak hanya digandrungi anak muda namun juga oleh orang dewasa dan anak-anak. Saat pesanan membeludak itulah, beberapa pengusaha konfeksi jins merasa kewalahan terutama dalam pemenuhan tenaga jahit. Karena itu, hubungan baik perlu dibina.
Tenaga kerja, terutama tenaga penjahit, menjadi faktor produksi utama dalam bisnis pembuatan celana jins. Beberapa pengusaha konfeksi jins di Cikijing, Majalengka, Jawa Barat, merasa kewalahan mencari penjahit jika pesanan sedang membeludak. "Penjahit sering pergi begitu kontrak selesai," keluh Yoyoh Komariah. pemilik Aritona Jeans.
Mulai membangun usaha pada 1994, Yoyoh mengaku masih sering kerepotan soal pemenuhan tenaga kerja. Dia bercerita, banyak tenaga kerja yang tiba-tiba menghilang ketika pesanan sedang banyak. Yoyoh saat ini memiliki 80 mesin jahit, namun hanya memiliki 50 tukang jahit tetap.
Debi, putri Nana Sudiana, pemilik PD Istana Jeans, juga mengeluhkan hal yang sama. Namun, untuk menyiasati kurangnya tenaga penjahit itu, Debi punya kiat, yakni terus menjaga hubungan baik dengan para penjahitnya atau bekas penjahitnya.
Istana Jeans menggunakan sistem borongan untuk pekerjaan jahitnya. Dengan 50 penjahit rumahan, rata-rata produksi Istana Jeans mencapai 5.000–8.000 potong celana jins per bulan. Untuk meningkatkan kinerja, Istana juga memberikan mesin jahit ke para penjahit.
Menurut Debi, rata-rata penjahit bisa menyelesaikan sepuluh potong celana per hari. Namun agar lebih efektif lagi, Debi memberi tugas berbeda, ada yang hanya menjahit pinggir, saku, pinggang, ritsleting, dan lubang kancing.
Kini, kapasitas produksi Istana jauh lebih besar dibanding dengan produksi pada 1982 lalu, ketika Istana mulai berbisnis jins. Pada zaman itu, usaha konfeksi jins dikerjakan dengan mengandalkan teknologi manual. Untuk pengeringan juga hanya memanfaatkan panas sinar matahari. "Dulu produksi memang rendah, namun penjualan lebih mudah dibanding sekarang," ujar Debi.
Pada saat merintis usaha, kapasitas produksi Istana hanya mencapai 1.000 potong jins per bulan. Selain karena jumlah tenaga kerja minim, proses pengolahan juga cukup panjang.
Proses produksi jins bermula dari pembelian kain bahan di Bandung. Bahan jins yang belum diolah berwarna abu-abu dengan berbagai pilihan, seperti denim yang lebih tipis dan jacko yang merupakan campuran katun dan poliester. Bahan jacko lebih disukai karena murah dan mengkilap. "Bahan jacko laris di kalangan anak muda," kata Debi.
Bahan jins kemudian dijahit dan diwarnai. Untuk membuat satu potong celana jins membutuhkan bahan 1,5 yard kain. Saban bulan Debi harus menyiapkan 10.000 yard bahan jins. Setidaknya ada tiga tren model jins, yaitu model standar, kargo dengan banyak kantong, dan pensil yang mengecil di bagian mata kaki.
Yoyoh memiliki kapasitas produksi jins lebih besar. Dia mampu menghasilkan 10.000 potong celana per bulan. Menurutnya, penjualannya lumayan tinggi karena mampu berinovasi dengan menggabungkan bahan berbeda untuk satu model celana. "Dengan variasi bahan, saya juga tidak akan kewalahan jika bahan sulit didapat," ujar wanita berusia 40 tahun ini.


Peluang Usaha

 
Selasa, 29 November 2011 | 15:48  oleh Hafid Fuad
SENTRA KONFEKSI CELANA JINS CIKIJING, MAJALENGKA
Sentra konfeksi jins Cikijing: Terganjal masalah merek dan produk impor (3)

Merek bisa menjadi ganjalan dalam berbisnis celana jins. Banyak pengusaha yang secara sembarangan memakai merek terkenal untuk meningkatkan penjualan. Selain merek, pengusaha konfeksi jins di Cikijing juga menghadapi kenaikan bahan baku dan serbuan produk impor.

Merek dagang menjadi persoalan pelik yang dirasakan oleh para pengusaha jins di Cikijing, Majalengka. Pemakaian merek terkenal tanpa melalui jalur hukum yang benar tentu akan sangat membahayakan.

Debi, putri Nana Sudiana, pemilik PD Istana Jeans mengatakan, pemakaian merek jins yang sudah terkenal secara sembarangan alias membajak merek mulai terjadi pada 1990-an.

Menjamurkan bisnis konfeksi di Cikijing tanpa dibarengi peningkatan kualitas pendidikan dan aturan, membuat masyarakat dengan enak memakai merek yang laris di pasaran untuk menarik pembeli.

Namun, menurut Debi, pada awal 2000 pemerintah baru melakukan pengawasan merek dagang lebih ketat. Hal itu membuat perilaku pemakaian merek secara sembarangan mulai berkurang. Masyarakat jadi lebih sadar hukum dan lebih melihat usaha dalam jangka panjang. Mereka juga lebih menghormati merek orang lain. "Memang masih ada juga yang menjiplak," ujar Debi.

Seiring dengan meningkatnya kesadaran hukum merek tersebut, pengusaha konfeksi jins di Cikijing pun mulai menggunakan merek sendiri. "Banyak juga yang telah dipatenkan," kata Debi.

Hanya, kebanyakan merek menggunakan bahasa dan nama asing untuk menarik pembeli. Para pengusaha yakin, nama merek berbau luar negeri lebih mudah diterima pasar dan terkesan lebih eksklusif.

Istana Jeans sendiri sempat beberapa kali mengganti merek jins, sebelum kini menggunakan merek Miqout Jeans yang telah dipatenkan pada 2000. "Dulu kami pernah menggunakan Sunti Jeans, lalu kemudian berganti menjadi Christin Jeans," ujar Debi.

Setelah urusan merek mulai terselesaikan, para produsen jins kini harus berhadapan dengan membanjirnya produk jins impor yang harganya juga murah meriah.

Para produsen itu mulai gelisah, seiring dengan serbuan produk jins impor itu, harga bahan baku justru melonjak naik yang membuat mereka susah menurunkan harga. "Setiap bulan harga bisa naik, kadang kenaikannya di atas 50%," keluh Yoyoh Komariah, pemilik Aritona Jeans.

Pilihan produsen agar jins tetap laku hanya dengan menurunkan margin keuntungan. Selain itu, produsen juga harus pintar-pintar mencari pasar baru dengan menghindar dari ketatnya persaingan di Jakarta.

Pengusaha lebih baik mengutamakan pasar di daerah yang masih jarang terdapat pusat pertokoan besar, seperti beberapa wilayah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan. "Itu pasar strategis," katanya.

Para pengusaha jins di Cikijing yakin konsumen daerah lebih setia karena produksi mereka sudah ada sejak 1980-an. Untuk itulah, Yoyoh selalu rutin memasok produk jins ke pasar sandang di Cirebon dan pasar Beringharjo di Yogyakarta.

Yang pasti, industri jins telah menyatu dengan denyut nadi Kecamatan Cikijing. Sebagian besar warga menggantungkan hidup dari bisnis ini. "Sekarang hampir setiap keluarga terlibat," ujar Debi. Sayangnya, industri ini juga menyedot anak usia sekolah untuk menjadi pekerja di konfeksi jins ini.

Sumber:
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/83926/Sentra-konfeksi-jins-Cikijing-Terganjal-masalah-merek-dan-produk-impor-3-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1322211716/83667/Sentra-konfeksi-jins-Cikijing-Beragam-model-jins-tersedia-di-sini-1-
http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/peluangusaha/83793/Sentra-konveksi-jins-Cikijing-Sulit-cari-penjahit-saat-order-melimpah-2-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar