Sabtu, 24 Desember 2011

Ide Bisnis | Budidaya Tambak Udang

Udang adalah binatang yang hidup di perairan, khususnya sungai, laut, atau danau. Udang dapat ditemukan di hampir semua “genangan” air yang berukuran besar baik air tawar, air payau, maupun air asin pada kedalaman bervariasi, dari dekat permukaan hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan. Udang biasa dijadikan makanan laut (seafood). Dalam bahasa Banjar disebut hundang.

Cara Budidaya Tambak Udang Di Air Tawar
Petak tambak untuk budidaya udang yang baik harus memiliki karakter kedap air dan dapat membuang limbah secara efisien. Karakteristik yang ke dua dapat terpenuhi apabila kotoran yang ada di dalam tambak terkonsentrasi di dekat saluran pembuangan harian. Prinsip ini dapat terpenuhi pada tambak dengan bentuk dan luas yang optimal. Sebagai contoh adalah petak tambak berbentuk bujur sangkar ukuran 50 x 50 m dengan sistem central drain merupakan petak tambak yang memenuhi syarat tersebut. Semakin besar perbedaan antara ukuran panjang dan lebar, maka kemungkinan terkumpulnya limbah semakin sedikit, sehingga pembuangan limbah semakin tidak efisien.
Posisi tambak, terutama dasar tambak terhadap sea level, akan menentukan kecepatan pengeringan air pada saat panen dan besarnya biaya untuk panen. Dasar tambak yang berada di atas level pasang tertinggi (misalnya 20 cm di atas HHWL) berakibat pada waktu panen tidak bergantung pada keadaan tinggi pasang serta dapat dilakukan secara gravitasi. Semakin rendah posisi dasar tambak dari level di atas berakibat pada semakin lamanya proses pengeringan, ada ketergantungan pada kondisi pasang, dan bahkan pada penambahan biaya untuk pompa.
Adanya tuntutan terhadap dilakukannya budidaya udang yang ramah lingkungan serta penyakit virus yang selalu mengintai udang, maka diperlukan pula adanya influent water treatment dan efluent water treatment. Oleh karena itu, dua unit petak untuk keperluan tersebut perlu dibangun melengkapi petak tambak untuk budidaya.
Sumber air untuk tambak (air tawar dan air laut) dibawa oleh saluran pembawa, dialirkan ke dalam petak influent water treatment, kemudian dialirkan ke dalam petak tambak. Dari petak tambak, air dibuang ke saluran drainase, dialirkan ke petak efluent water treatment, untuk kemudian dibuang ke laut.
Untuk memberikan gambaran teknis konstruksi suatu hamparan tambak, diuraikan salah satu contoh konstruksi dari tambak seluas 5 ha di bawah ini.

Sumber : pelaungusaha-oke.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar